Evariny Andriana: Lebih Siap Mental


Akhirnya setelah umur my baby Ana 2.5 bulan, aku menyempatkan diri nulis panjang mengenai kisah kelahirannya, menepati janjiku pada banyak orang. Daripada ditagih lagi sama adik sepupu ipar tercinta dr.Adirahman SpOG :)
 
Kelahiran Ana memiliki kisah yang indah sekali, apalagi kalau aku bandingkan dengan kelahiran kakaknya (Raka 6 thn) yang benar2 nggak punya pengetahuan mengenai proses persalinan dan melahirkan, pasrah saja pada policy rumah sakit dan suasana ruang melahirkan yang  terang benderang penuh peralatan medis dan suara dokter,bidan yang (sayangnya) bikin panik. Tapi itu pun sebenarnya proses kelahiran Raka berjalan cukup lancer berkat hypnobirthing yang diturunkan oleh guru tercintaku, ibu Lanny Kuswandi. Ya pastinya lancer dong… kalo enggak ya ngga jadi buku :)
 
Minggu, 3 Juni
            Due date Ana (40 weeks) ditetapkan tanggal 23 Juni 2012, jadi di hari minggu 3 Juni ini udah memasuki 37 minggu, tapi entah kenapa aku punya feeling kalau Ana akan lahir dalam waktu dekat. Feelingku sendiri bilang kayaknya di 38 minggu, Ana sudah pingin ketemu mama-papa dan kakaknya. Di 37 minggu ini pun aku sudah sering merasakan Braxton hicks. Akhirnya minggu pagi2 aku berkunjung ke pak Ustad langgananku yang ahli akupresur dan punya “gift” untuk menerawang *hihihi* .
            Di tempat pa ustad, aku cuma minta dipijit supaya lancer dan tenang dalam menanti kelahiran Ana. Tapi ternyata pak Ustad punya bonus informasi… Beliau bilang weekend ini Ana akan lahir (tepatnya antara Jumat-Sabtu) dan beliau pun bilang kondisiku baik, sehat untuk melakukan homebirth. Alhamdulillah… aku pun pulang dengan tenang. Percaya nggak percaya apa kata pak Ustad, tapi sebenernya 9020percaya karena selama pak Ustad ini memberikan “perawatan” pada keluargaku, belom pernah ada “ramalan”-nya yang meleset… tentunya seputar kesehatan aja kok hahaha J
            Jadi lah karena ada feeling dan ucapan pak Ustad itu, aku jadi lebih banyak mempersiapkan diri… Rajin berenang, ngikutin prenatal yoga lewat video, jalan – jalan dan juga beberes rumah, kamar tidur dan kamar mandi. Minggu itu pun aku rutin dikirim bunga melati tiap 3 hari oleh tukang bunga deket rumah karena aku suka sekali bau melati dan aku ingin itu sebagai aromaterapi ruang persalinanku…
 
Kamis, 7 Juni
            Hari ini mbak Rini (bidan Tantri Maharani Setyorini) berencana untuk datang dari bandung, langsung ke rumahku, bawa peralatan medis sekalian mau cek kondisi kehamilanku. Kata mbak Rini, ngga apa2 perlengkapannya biar mendekam di rumahku dulu supaya kalau tiba hari H-nya, mbak Rini nggak perlu boyongan banyak2 lagi. Ok, aku jadi lebih tenang. Mbak Rini yang tadinya mau setelah makan siang tiba di rumah, jadinya baru sampe jam 5 sore karena muacetnyaaaa… wehhh.. untung aku nggak lagi melahirkan, bisa2 udah brojol duluan kalo nungguin bu bidan kena macet heheheh
            Saat diperiksa oleh mbak Rini, sudah ada bukaan 1 sempit tapi kepala bayi masih agak jauh. Jadi menurutnya mungkin masih agak lama.. Yahhhh dalam hati aku rada kecewa karena merasa “ramalan” pak Ustad dan feeling aku kali ini nggak tepat. Tapi aku bisikin aja ke Ana, bahwa aku siap kapanpun Ana siap untuk ketemu. Malam itu mbak Rini nginap di rumahku 1 malam, karena besoknya ada acara dengan bu Lanny Kuswandi.
 
Jumat, 8 Juni
            Tukang bunga pagi2 jam 7 datang ngirim bunga melati segar yang kemudian aku sebar2 di kamar, kamar mandi dan beberapa sudut rumah supaya wangi segar. Jadi mirip wangi kamar pengantin karena aku tambahkan juga dengan bunga sedap malam. Hari itu pun aku ngga terlalu mikir lagi karena kemarin saat diperiksa mbak Rini katanya kepala bayi masih tinggi… Ya sudah, aku tetap melakukan kegiatanku dengan bebersih dan beres2 (tanpa nyadar bahwa ini salah satu insting untuk “bersarang” atau nesting).
            Memang kadang aku ngerasa ada kontraksi, tapi masih dengan intensitas yang sama dengan hari2 sebelumnya, dimana aku tau itu adalah Braxton hicks karena munculnya sangat tidak beraturan. Mbak Rini pun sudah pergi sejak pagi dengan bu Lanny, dan berencana untuk nginap di rumah bu Lanny malam ini, sebelum pulang ke bandung besoknya. Bu Lanny pun belum sempat ketemu sama aku karena masih ada acara.
            Sore2nya, aku jalan kaki sama Raka dan ibuku (mamaku memang sudah sejak hari Rabu datang untuk nemenin aku sampai melahirkan). Kita bertiga pergi ke toko bayi dekat rumah untuk iseng beli – beli aja. Pulang dari jalan2, aku pipis dan ngeliat ada lendir darah di celana… hmmmm apa ini tanda udah dekat ya? Atau cuma sekedar lendir aja karena beberapa hari lalu juga sempet keluar ada lendir darah sedikit. Tapi aku ngabari mbak Rini aja, just in case. Mbak Rini bilang disiap2kan aja, kemungkinan memang sudah ada ‘tanda’.
            Sekitar magrib, aku baru nyadar kalau ada rasa2 kontraksi yang munculnya mulai teratur, sekitar 30 menit sekali, dan lendir darahnya belum berhenti. Kali ini aku yakin seyakin2nya kalau Ana kayaknya sudah siap. Akhirnya baru deh ngirim bbm ke dr. Adirahman yang disertai dengan kata2 panjang “yaaahhh aku nggak bisa sekarang” heheheh… selain memang ga ada pesawat malem2 dari jogya ke Jakarta, pak adik dokter lagi ada pasien (iya ya kalo ga salah? Aku lupa hehe). Akhirnya dr.Adi janji, kalau besok subuh belom lahir, dia mau terbang ke Jakarta. Oke sip
            Sampai jam 10 malam, aku ga ngerasa aneh2, cuma memang kontraksinya mulai sedikit merapat ke 20 menit, tapi intensitasnya ya gitu2 aja.. nggak kerasa kuat atau bikin mules. Jadi ya tetap melakukan kegiatan malam seperti biasa (baca:nonton tv sampe ketiduran). Herannya kok ngga ngantuk2, sekalipun udah pake relaksasi juga, kali ini relaksasinya ngga ketiduran. Sampai sekitar jam 12 malam, aku masih ngitung kontraksi yang kali ini terasa intensitasnya agak naik, dan merapat ke 12 menit sekali. Wah kayaknya udah beneran deh ini… Coba mau ta’ tunggu sampai jam 1 dulu, sambil relaksasi dan ngobrol sama baby Ana.
 
Sabtu, 9 Juni (tengah malam)
            Menjelang jam 1 pagi, kontraksi jadi 7 menit sekali tapi nggak sakit… Cuma aku merasa sudah saatnya bangunin suami dan mempersiapkan bala bantuan, yaitu nelepon mbak Rini yang pastinya udah tidur cantik di rumah bu Lanny. Untungnya rumah bu Lanny hanya sekitar 10 menit dari rumahku. Baru telponnya bunyi 2x, udah diangkat sama mbak Rini.. lha nggak tidur apa si mbak ini? Hehehe
            Sambil menanti kedatangan tamu kehormatanku, kita beberes dan menciptakan ruang tidur jadi ruang persalinan dengan aromaterapi, bunga2, dan musik relaksasi dibiarkan mengalun. Raka yang tadinya masih tidur di kamarku, digendong pindah ke kamar sebelah yang kosong supaya dia ngelanjutin tidur. Aku inget dia ngomong sebelom tidur,”Ma, jam berapapun adek lahir, Raka bangunin ya”. Tapi mana tega ngeliat dia pules gitu… digendong pun masih pules.           
 
Kamar mandi pun dipasangi karpet2 handuk supaya ngga licin, bunga2 melati juga disebar, aromaterapi menambah wangi ruangannya dengan lilin kecil2 yang bertebaran membuat kamar mandi jadi remang – remang. Air pada bak mandi diisi setengah dengan air dingin, supaya jika saatnya tiba, tinggal nambahin air panasnya aja.
 Akhirnya jam 1:30 pagi, mbak Rini datang bersama asistennya (mbak Lisa) dan ibu Lanny-ku tercinta… senangnyaaaa. Mbak Rini langsung cek pembukaanku… bukaan 3 katanya. Alhamdulillah, artinya memang Ana sudah pingin ketemu aku. Aku pun ajak Ana ngobrol terus, dibantu dengan pijat endorphin dengan bu Lanny sambil sesekali aku lakukan pelvic rocking dengan birthing ball. Sekaligus juga melakukan relaksasi dengan musik relaksasi yang mengalun lembut di kamar tidurku yang sudah menjelma jadi ruang bersalin.
            Intensitas kontraksi pun sudah lebih tinggi, tapi aku iringi dengan hembusan napas saja dan masih ngobrol sambil ketawa ketiwi becanda disela-sela pijat endorphine-ku. Sangat tenang, sacral, indah sekali suasananya.. Mbak Rini pun bilang kalau ia tidak akan cek pembukaan lagi, biarkan Ana yang tentukan sendiri kapan mau lahir, dan aku ikuti semua insting dan bahasa tubuhku sendiri. Tidak ada paksaan, tidak ada komentar negatif atau apapun… semuanya tenang.
            Menjelang jam 5, aku bilang kalau kontraksi sudah semakin merapat dan lebih kuat, lalu mbak Rini memutuskan untuk menyiapkan air untuk waterbirth-nya, sementara aku mandi, bersih2 badanku supaya cantik saat ketemu Ana untuk pertama kalinya.
            Selesai mandi, surprise ngeliat Raka bangun dan duduk di tempat tidur, lalu dia tanya,”Ma… ade mau lahir ya? Tuhan yg bangunin Raka”. Bikin aku terharu sampe berurai air mata. Dia bisa tiba2 bangun sendiri karena ada yang “ngebangunin” Raka. Komunikasi batin dengan adiknya kah?  Who knows…
Lalu setelah itu, aku bilang ke mbak Rini kalau ingin “nyebur” aja ke bak mandi sambil nunggu detik2 Ana lahir. Aku pun nyebur, ambil posisi nungging sambil menikmati setiap gelombang Rahim yang datang dengan desahan dan iringan napas. Lagu 2 pilihanku untuk mengiringi proses kelahiran sudah mengalun lembut di kamar mandi. Semakin lama aku bisa merasakan gelombang rahim yang semakin intens dan membuat aku “harus” mengeluarkan suara rintihan imut2 bersama desahan2 mesra (heheheh) .
 Bu Lanny pun duduk di bibir bak mandi dengan kedua kakinya ikut nyebur untuk jadi peganganku sambil bu Lanny memberikan pijatan-pijatan penuh cinta ke bagian punggungku. Aku pun merasakan Raka nggak pernah mau pindah dari sisiku, dia ikut pijitin punggung aku, dia ikut siram2in badanku supaya tetap hangat. Sunyi… sepi… hanya ada suara-suara tenang dari para pendamping disaat perlu berbicara. Tapi selebihnya, suasananya begitu nyaman, hanya musik dan suara gemercik siraman air dari kolam waterbirth.
            Di dalam kolam pun, mbak Rini sudah tidak melakukan pemeriksaan pembukaan lagi, hanya memeriksa detak jantung bayi yang Alhamdulillah baik dan normal. Aku pun masih bisa senyum dan bercanda dengan Raka di sela-sela kontraksi. Akhirnya memasuki tahap akhir, tanpa perlu dicek lagi, aku seperti punya rasa ingin mengejan, dan aku ikuti. Saat kontraksi hilang, aku bernapas dan mendengarkan musik… Hingga aku merasakan sekali Ana berada di pintu kelahirannya, aku pun mengejan sambil dalam hati berucap “Bismillah”, aku bisa mendengar suara musik yang mengalunkan lagu “Suo Gan” (sebuah lagu anak2 berbahasa Welsh yang jadi lagu favoritku).
            Tiba-tiba aku bisa merasakan dorongan yang kuat dari dalam tubuhku, dan akupun tidak mengeluarkan tenaga apapun saat mengejan karena tiba-tiba aku sudah merasakan kepala Ana terlahir, dilanjutkan dengan meluncurnya tubuh Ana yang langsung disambut oleh ibuku dengan bantuan mbak Rini. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi bagaimana perasaanku saat itu. Ana adalah cucu terakhir dari kedua orang tuaku, dan aku minta supaya mama-lah yang menangkap Ana saat ia lahir. Lega dan bahagia rasanya… proses persalinan dan kelahirannya berjalan sangat alamiah, lancar, gentle, semua sesuai keinginanku. Alhamdulillah juga proses ini terekam dengan indahnya oleh suamiku.
 Saat ana lahir itu, Raka tiba-tiba memeluk suamiku, membenamkan kepalanya, dan ternyata dia nangis sambil berbisik ke papanya,”Raka punya adik pa…” . Adegan ini yang lebih membuat aku terharu sampai ngga bisa lagi aku bendung air mata bahagia, mendengar tangis Ana yang sehat, mendengar isak tangis ibuku yang penuh haru, dan saat Ana akhirnya diletakkan di dadaku, semua bernyanyi “Happy Birthday” menyambut hari lahir Ana. Subhanallah….
 
 
            Setelah Ana lahir dengan tali pusat yang masih terhubung dan plasenta yang masih ada dalam rahimku, aku diajak pindah ke tempat tidur untuk melahirkan plasenta sambil melanjutkan dengan proses IMD, dan mbak Rini menjahit perineum-ku.. Tapi hanya 1 jahitan dan rapih kok katanya.. Kemungkinan dari jahitan yang lama, terbuka kembali.
Plasenta pun terlahir dengan kondisi baik, langsung masuk ke dalam wadah dan diberi bunga melati. Ana melakukan proses IMD selama 3 jam di dadaku. Indah sekali… lebih indah saat aku menyaksikan Raka yang menciumi adiknya walau masih berlumuran lemak putih
            Sekarang Ana sudah 2.5 bulan, Alhamdulillah sehat dan masih full ASI. Semua berkat dukungan orang – orang tercintaku, terutama sekali bu Lanny, mbak Rini dan Fonda. My deepest gratitude and love… Tak pernah terbayang sama sekali bahwa aku bisa menjalani urutan proses melahirkan yang begitu indah, tenang dan nyaman seperti ini. Gentle birth, waterbirth, homebirth, lotus birth.. Alhamdulillah Allah mengizinkan dan melancarkan semuanya.
            Saat aku tanya ke mbak Rini, kapan air ketubanku pecah, mbak Rini bilang ketubanku nggak pecah… Ana lahir masih dengan selaputnya. Wah… aku ngga nyadar kalau ini. Itulah sebabnya kata mbak Rini, Ana lahir begitu bersihnya, nggak perlu diberi tetes mata karena ia masih terlindungi oleh selaput ketubannya. *hiks*
            Dan setelah Ana lahir itu, sekitar 30 menit kemudian, aku bbm dr.Adi .. singkat aja bilang “udah lahir dek” hahahaha… karena takut dr.Adi keburu lari ke airport dan ternyata udah keduluan lahir. Tapi terima kasih untuk niat baiknya ingin ikut mendampingi aku… Ana malu sama om-nya kayaknya, jadi minta lahir duluan. Dan menurut mba Rini, sebenarnya bu Lanny agak khawatir ngga bisa nemenin Ana lahir karena Sabtu pagi itu harus jadi pembicara di Sentra Laktasi, jadi jam 8 harus pergi. Tapi ternyata Ana paham ya bu... Ana ingin lahir ditemani bu Lanny sehingga dia milih waktu yang lebih pagi :)
            Yang sebenarnya menakjubkan, Ana lahir ini bener2 mengikuti niatanku... aku ingin dia lahir weekend supaya suamiku nggak panik buru2 dari kantor, dan suami pas lagi libur. Ini pun sesuai pesan dr.Adi yang (ceritanya) mau mendampingi, supaya bisa hadir jadi ingin Ana lahir weekend. Tanggal 9 Juni yang dipilih oleh Ana adalah hari ulang tahun sahabatku.
 

comments powered by Disqus
hubungi kami
Address HBI
Jl. Permata Safir I Blok W5.
Permata Hijau - Jakarta Selatan
Telepon HBI
021-53674555
testimonial
Hanny Widya: Hypno-birthing & komunikasi dengan janin, kelahiran pun lancar
Dua anak saya lahir secara normal dan lancar dengan afirmasi positif dan komunikasi dengan mereka sejak masih dalam kandungan. Karena lancar sekali pembukaannya, suster sampai heran.
 
Evariny Andriana: Lebih Siap Mental
Kehamilan pertama, buat saya jadi hal yang menakutkan karena kurang siap mental. Hypno-birthing mendukung saya untuk percaya kepada tubuh saya, berkomunikasi dengan anak sejak dalam kandungan dan menghindarkan saya dari trauma persalinan
 
Fani Faniasuri: Myasthenia Gravis
Gangguan pengentalan darah (myasthenia gravis), tidak menghalangi saya untuk berusaha melahirkan secara normal. Hypno-birthing membantu saya.